
Aku
mengenal perempuan ini tahun 2010 silam, saat kami menjadi penerima
sebuah beasiswa. Beliau adalah seorang aktivis perempuan dan advokat
yang banyak mendampingi perempuan-perempuan korban kekerasan dalam rumah
tangga di Sulawesi Tengah. Tahun 2005 silam beliau menjadi salah satu
aktivis perempuan Indonesia yang dinominasikan mendapat 1000 Women for
the Nobel Peace Prize sebagai "Indonesian Indigenous Rights Advocate"
oleh the Emily Fund for Better World,
sebuah yayasan internasional yang didirikan untuk mengenang perjuangan
seorang mahasiswi bernama Emily Rachel Silverstein yang dibunuh pada
tahun 2009 karena ia kerap melakukan gerakan anti kekerasan dan anti
perang, dan memotivasi banyak orang untuk mewujudkan perdamaian.
Dewi Rana Amir pernah menjadi ketua Yayasan Bantuan Hukum (YBH) Bentala, Palu; menerima beasiswa Intrnational Fellowship Program (IFP) dari the Ford Foundation dan mendapat gelar Magister setelah menyelesaikan studi Kajian Gender di Universitas Indonesia dengan tesis berjudul "Tina Ngata: tatanan nilai-nilai dan implikasinya pada perempuan dan laki-laki (sebuah telaah kritis atas tatanan nilai pada kesatuan masyarakat hukum adat Kulawi di Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah"; hingga menjadi pembicara di tingkat lokal hingga internasional. Saat ini Dewi menjabat sebagai direktur Lingkar Belajar Untuk (LIBU) Perempuan, Palu, Sulawesi Tengah dan masih aktif sebagai advokat.



0 komentar: