Petani Bersenda Gurau

Aku ingat saat ayahku berlumur tanah. Juga pamanku, bibiku dan ayah-paman-bibi teman-temanku dan teman dari temanku. Sedesa kami petani. Anak- beranak mengolah tanah dan bersenda gurau sesekali. Ya, sewaktu menikmati segelas kopi dengan camilan singkong bakar atau biskuit dari warung di dekat rumah. Tertawa-tawa tentang kekayaan khayali tahun depan-tahun depan-tahun depan-tahun depan dan tahun depannya lagi. Bersenda gurau itu, yang kadang-kadang ditemani ikan bakar dan lalapan kecipir untuk makan siang, para pembajak tanah sekilas bahagia. Tanah merdeka. Tanah saya. Warisan moyang saya. Jauh dari kota. Jauh dari binasa.

(Lukisan ini terinspirasi dari sebuah photo yang diberikan seorang kawan agar aku berlatih merupa manusia. Alamak, tak jelas pula bentuknya, kuberi pula celotehan tentang ayahku, pamanku, bibiku dan ayah-paman-bibi orang lain di desaku). 

Asal muasal yang bikin kangen celoteh kodok yang merindu hujan

0 komentar: